Jumat, 18 Mei tahun lalu merupakan tanggal inspiratif bagiku.
Mau tau ceritanya? Simak cerita berikut.
Kegiatan
yang padat seputar penulisan skripsi, materi pengajaran les dan
deadline terjemahan cukup menyita waktu dan otakku. Malam datang begitu
cepat tanpa permisi. Hidup terasa tak seperti 24 jam dalam sehari.
Sepulang dari rutinitas dan kegiatan seharian, tubuh lelah dan hanya
ingin bermanja-manja ria berefleksi. “Weitsss…tunggu dulu…”, otakku
berargumentasi. Merespon perintah saraf otak, kucoba mengingat-ingat
perihal apa yang belum kuselesaikan hari ini. Dan benar ternyata, daku
belum mempersiapkan kado ulang tahun Bapakku tanggal 20 Mei minggu
nanti. Ehhhhh!!! Aku lumayan pusing waktu itu. Stamina mulai kempis dan
mataku mulai tertutup tragis. Bak bohlam, awalnya daya pijar mataku 10
watt, berganti 8 watt, lalu turun drastis menjadi 5 watt. Waktuku pun
menipis dikarenakan statusku yang anak rantau; terpisah lautan dengan
orangtua, mengharuskanku untuk mengirim kado ulang tahun via pos yang
membutuhkan waktu 1 hari untuk sampai ke tujuan, padahal besok sudah
harus segera dikirim. Jeng-jeng…melayang jauh sudah dunia imajinasiku
tidur nyenyak di atas kasur empuk.
Tak
ingin mengulur-ulur waktu, aku pun segera mengeluarkan peralatan apa
yang kupunya untuk berkreasi malam itu. Ternyata tak banyak membantu,
jam menunjukkan pukul 23.30 WIB dan aku hanya punya laptop, printer dan
kertas spectra warna-warni. Awalnya kucoba merangkai kata-kata untuk
kujadikan slideshow, tapi ternyata otakku tak bisa diajak
kerjasama; sudah mentok macet, sudah lelah. Setengah frustasi, kucoba
ganti ide untuk membuat kartu ucapan unik. Tapi ternyata sama saja, tak
menghasilkan apa-apa, hanya tulisan yang kutulis perlahan-lahan lalu
kuhapus lagi.
Waktu
pun terus berjalan menuju dini hari, lumayan frustasi ketika mendengar
kokok ayam sementara aku belum juga menghasilkan karya. Teman-teman kos
pun sibuk dengan mimpi fantastis di pulau kasur, tak ada orang untuk
dimintai opini. Ehhh!!! Buatku semakin frustasi saja. Begitu frustasinya
aku, sampai-sampai hanya bisa berbaring terlentang melihat ke
langit-langit sembari mendengarkan detik jarum jam yang terus bernyanyi.
Karena ini demi sosok Bapak yang kukasihi, alhasil aku clingak-clinguk kaleng kesayanganku; berharap ada stock
yang bisa menambah semangat dini hari. Kudapati hanya tersisa satu
sachet Nescafe Brown Coffee. “Yah…lumayan la, daripada ga ada sama
sekali”, bisikku dalam hati. Berawal dari aroma kopi dan ngopi itulah,
inspirasi itu datang menghampiri. Ide karya kuganti. Beralih ke kertas spectra
warna-warni dan sisa-sisa kertas foto lalu. Kuoptimalkan sedemikian
rupa, kuprint semua kenangan-kenangan lama, foto keluarga, semua canda
tawa yang berhasil diabadikan lewat kamera. Semua kukumpulkan jadi satu,
kutuliskan kata-kata lucu, haru biru hingga menjadi satu buah buku. Dan
scrapbook pun jadi. Hadiah untuk Bapak yang ku kasihi. Selamat Ulang Tahun, Pak.
Terima kasih, Nescafe...sudah menemani perjuanganku 18 Mei 2012 lalu.
NB: Tulis-tulis untuk NESCAFE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar