Kota
yang terletak di sebelah barat Bandung ini dikenal sejak pembangunan
jalan Anyer-Panarukan pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Willem
Daendels. Tak banyak yang mengetahui bahwa kota ini menyimpan
jejak-jejak sejarah khususnya jejak militer pada masa kolonial. Namun,
kota ini dikenal dengan sebutan “kota tentara” karena banyaknya pusat
pendidikan untuk tentara seperti Pusat Pendidikan Guru Militer dan Pusat
Pendidikan Polisi Militer.
Puing-puing
sejarah dapat kita saksikan di kota ini, tepatnya di Gereja Santo
Ignatius dan Stasiun Kereta Api Cimahi. Dua bangunan bersejarah ini
memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh kolonial Hindia Belanda. Ada pula
Rumah Sakit Dustira dengan arsitektur eropa (artdeco). Nama “Dustira”
ini diambil sebagai wujud penghargaan atas jasa Dr. Dustira
Prawiraadjaya dalam membantu tentara militer di medan perang.
Topografi
kota Cimahi tak jauh berbeda dengan Bandung yang dikelilingi perbukitan
dan perkebunan. Sehingga tak heran jika pemandangan kota ini dominan
dengan hotel dan restoran; memenuhi permintaan wisatawan yang berlibur
menikmati udara sejuk pegunungan. Sektor perdagangan hotel pun menjadi
salah satu aktivitas ekonomi kota Cimahi selain perindustrian.
Berkunjung
ke kota Cimahi tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi seblak dan
membeli denjapi sebagai buah tangan. Seblak merupakan makanan khas
Cimahi yang terbuat dari tepung kanji yang dicampur bumbu rahasia,
kunyit, bawang putih dan cabai. Makanan ini dominan bercita rasa pedas.
Walaupun pedas, makanan ini memiliki banyak penggemar. Sedangkan denjapi
singkatan dari dendeng jantung pisang. Ya, makanan ini terbuat dari
jantung pisang. Jika kita terbiasa mengenal dan familiar dengan
olahan jantung pisang yang dicampur santan untuk dijadikan sayur, di
kota Cimahi jantung pisang diolah spesial. Bagian dalam jantung pisang
yang empuk dimasak bersama bumbu dendeng (bawang putih, ketumbar, gula
merah) dan dicampur dengan kaldu daging. Selanjutnya, jantung pisang ini
dimasak hingga empuk dan kering lalu dipres dan dipanggang. Rasanya
krenyes-kreyes, renyah dan gurih; sama seperti dendeng sapi, cocok
dimakan bersama nasi putih hangat. Biasanya denjapi dibuat menggunakan
jantung pisang kepok yang tebal, tidak sepat dan tidak mudah hancur.
Denjapi
Selain
wisata kuliner, kota Cimahi juga memiliki tempat andalan bagi para
wisatawan yang ingin menghabiskan liburan bersama keluarga. Di Jl.
Kolonel Masturi 157, terdapat Alam Wisata Cimahi (AWC). Tempat ini
menawarkan wahana ATC (All-Terrain Vehicle), delman dan kuda untuk
mengantar wisatawan berkeliling kompleks AWC. Ada juga wahana flying fox
dan jembatan gantung bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa yang ingin
memacu adrenalin. Selain wisata petualangan, Alam Wisata Cimahi ini
terkenal dengan kolam renangnya yang menyuguhkan pemandangan alam dari
ketinggian. Hidangan khas Sunda yang ditawarkan di sini juga tak kalah
mampu menggugah selera makan wisatawan.
Kota
Cimahi juga memiliki kampung adat seperti Kampung Naga di Tasikmalaya
dan Kampung Urug di Bogor, namanya Kampung Cireundeu. Dinamakan
“Cireundeu” karena kampung ini dulunya dikelilingi oleh pohon reundeu
(obat herbal). Kampung Cireundeu yang terletak di Kelurahan Leuwigajah,
Kecamatan Cimahi Selatan ini masih memegang teguh adat istiadat nenek
moyang. Mereka mempunyai hutan terlarang, hutan reboisasi, dan hutan
pertanian yang dikelola untuk kepentingan bersama. Masyarakat kampung
ini tergolong unik karena menjadikan singkong sebagai makanan pokok.
Kampung Cireundeu
Peninggalan sejarah, bentang alam, culinary,
budaya dan adat istiadat kota Cimahi ini memiliki potensi untuk
dijadikan tujuan wisata. Kota ini juga berpotensi untuk dijadikan daerah
tujuan agrowisata. Semoga kelestarian dan keindahan kota ini tetap
terjaga dan ke depannya nanti kota Cimahi memiliki branding image dan maskot untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Selanjutnya, semoga kota Cimahi tak hanya menjadi vocation tourism, tapi juga business dan education tourism.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar