Siapa
yang tidak kenal dengan gula? Semua orang pasti tahu dan pernah
menjumpainya. Bahan baku permen, gulali, serta beberapa produk industri
ini begitu lekat dengan masyarakat Indonesia terlebih masyarakat
Yogyakarta yang dikenal dengan ciri khas makanan manisnya; gudeg.
Ibu-ibu rumah tangga, restoran-restoran dan home industry juga tak bisa dipisahkan dari bahan baku satu ini. Gula sudah menjadi kebutuhan pokok konsumen pasar dari masa ke masa.
Ada beberapa tanaman yang dapat menghasilkan gula yakni tanaman tebu (Saccharum officinarum L.), kelapa (Cocos nucifera), jagung (Zea mays) dan enau/aren (Arenga pinnata).
Namun, seiring berkembangnya zaman dan permintaan pasar, gula yang
berasal dari nira tebu lebih dibudidayakan daripada nira pohon aren.
Gula
sebagai sukrosa (salah satu jenis karbohidrat disakarida) mengalami
proses produksi yang cukup panjang sebelum menjadi gula kristal putih
seperti yang kita konsumsi sehari-hari. Proses defekasi-sulfitasi yang
meliputi tahap penggilingan, pemurnian, penguapan, pemasakan, puteran
dan penyelesaian dengan dilengkapi mesin-mesin berteknologi khusus
mengekstrak tebu agar layak dan siap dikonsumsi masyarakat umum. Proses
produksi ini berlangsung di 61 pabrik gula yang tersebar di Indonesia,
seperti PG Cepiring di Kabupaten Kendal, PG.Watoetoelis di Surabaya, PG
Madukismo di Yogyakarta, PG Lestari di Kabupaten Nganjuk, PG Pangka di
Tegal, PG. Takalar di Sulawesi Selatan dan PG-PG yang didirikan oleh PT
Gunung Madu Plantations dan PT Sugar Group Companies di Lampung.
Pabrik-pabrik tersebut sebagian besar berada di bawah pengelolaan PT
Perkebunan Nusantara X dan BUMN, sisanya dikelola oleh perusahaan
swasta.
Sejarah
pabrik gula itu sendiri merupakan peninggalan penjajahan Belanda.
Dahulu, produksi tebu menjadi pemasukan besar negara Belanda, lalu
kemudian beralih fungsi sebagai penyimpanan senjata melawan sekutu
Perang Dunia II ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Setelah Jepang
menyerah kalah dalam perang melawan tentara sekutu, pabrik tersebut
dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang. Salah satu
pabrik gula yang didirikan oleh pemerintahan Belanda dan masih berdiri
sampai sekarang adalah PG Krebet di Malang.
Banyaknya
pabrik gula yang tersebar di seluruh nusantara ini memberikan peran
tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah. Pabrik gula dengan siklus
tahunan yang berkelanjutan selalu membutuhkan pekerja pada masa tanam,
pemeliharaan dan panen. Pada musim giling pun dibutuhkan jasa angkutan.
Diluar masa giling, sejumlah pabrik juga membutuhkan sejumlah tenaga
ahli maintenance mesin-mesin giling yang sedang tidak beroperasi.
Penyerapan tenaga kerja ini secara tidak langsung meningkatkan
pendapatan masyarakat di sekitar areal tersebut. Tidak hanya itu,
situasi dan kondisi berkesinambungan ini juga memberikan kontribusi
tersendiri bagi para pedagang-pedagang kecil yang memanfaatkan
kesempatan menyediakan makanan dan minuman bagi para buruh dan pekerja
pabrik. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa peran pabrik gula sebagai
penyangga kehidupan ekonomi masyarakat lokal sangatlah dominan.
Peran
pabrik gula juga memberdayakan masyarakat. Para petani gula juga
mendapatkan sumber modal dan pelatihan-pelatihan dalam Program Kemitraan
dan Bina Lingkungan (PKBL) yang menjadi program PT Perkebunan Nusantara
X dalam meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat.
Petani-petani gula yang terdapat di daerah tertentu atau beberapa daerah
dikumpulkan untuk mendapatkan pelatihan bagaimana teknis budidaya
tanaman tebu untuk menghasilkan bibit unggul dengan kualitas terbaik.
Kegiatan ini menjadi bonus tersendiri bagi petani gula, karena selain
menyewakan lahan pertanian, mereka juga mendapatkan informasi dan
pengetahuan gratis tentang kemajuan teknogi pertanian. Hal ini
diharapkan dapat mendongkrak produksi tebu nasional yang masih rendah
dalam memenuhi kebutuhan konsumen pasar.
Tak
berhenti cukup sampai di sini, limbah hasil ekstraksi tanaman tebu yang
menghasilkan ampas dan blotong (endapan dari nira kotor pada proses
pemurnian nira yang disaring) pun dapat dimanfaatkan. Ampas tebu
biasanya diolah sedemikian rupa sebagai bahan baku kertas dan bahan
bakar ketel uap sedangkan blotong dijadikan biobriket, pakan ternak
serta pupuk. Ampas pun bisa bernilai ekonomis bagi warga yang mau dan
mampu memanfaatkannya.
Selain
peran-peran di atas, pabrik gula diharapkan mampu menjalin silaturahmi
dengan para pekerja dan masyarakat setempat. Bukan hanya untuk
perpanjangan kontrak kerja dan lahan kerja tapi juga diharapkan dapat
menciptakan suatu “Branded”. Desa atau daerah yang mampu menciptakan
sebuah “Branded”, katakanlah “Cane Branded”, “desa gula” atau “cane
island” akan menimbulkan kecintaan diri dan rasa bangga pada daerahnya
sendiri yang kemudian akan tersebar luas ke seluruh penjuru negeri.
Kondisi ini dapat menciptakan ketertarikan bagi para kaum wisatawan,
baik domestik maupun mancanegara yang ingin tahu lebih dalam proses
pembuatan gula atau sejarah pabrik gula. Perkembangan ini kemudian dapat
dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan objek pariwisata daerah.
Kesempatan perusahaan untuk mendapat investor pun terbuka dengan
sendirinya.
Dengan
menjadikan masyarakat lokal sebagai masyarakat mandiri dan produktif,
pabrik gula juga ikut berperan serta dalam meningkatkan perekonomian
daerah dalam bentuk pembayaran pajak dan retribusi yang tentunya
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selanjutnya, PT Perkebunan
Nusantara X dan BUMN sebagai pengelola juga membantu pendapatan negara
dalam bentuk dividen. Tingginya dividen yang dibayar kepada negara
nantinya akan meningkatkan pendapatan dan kas negara yang selanjutnya
dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.
Menyadari
dan memahami kinerja peran sektor industri gula yang memberikan dampak
positif dan sumbangsih yang cukup besar bagi masyarakat, pemerintah dan
negara untuk jangka waktu yang relatif panjang menjadikan industri ini
patut dan layak mendapatkan perhatian besar. Pemerintah bersama
masyarakat diharapkan dapat saling bekerjasama. Kas negara diharapkan
dapat memberikan sedikit ruang dan anggaran revitalisasi pabrik-pabrik
gula. Renovasi dan fasilitas pabrik yang uzur sudah selayaknya
mendapatkan perhatian. Hal ini bukan semata-mata untuk kepentingan
pabrik dan kesejahteraan masyarakat, tapi lebih-lebih untuk mendongkrak
produksi gula lokal yang semakin hari semakin terjajah dan terdominasi
gula impor. Dengan meningkatnya produksi gula lokal, negeri ini tak lagi
harus mengimpor gula dari negara lain seperti Thailand, Brasil dan
Australia. Anggaran pembelian gula impor demi memenuhi kebutuhan gula
lokal bisa dialihfungsikan untuk kebutuhan-kebutuhan negara yang lain.
Mungkin dialokasikan pada anggaran pendidikan dan beasiswa yang nantinya
dapat melahirkan ilmuan dan tenaga ahli di bidang teknologi industri;
sebuah teknologi yang mampu menekan kehilangan gula (sukrosa) seminimal
mungkin dalam proses pengolahan tebu sehingga menghasilkan gula yang
berkualitas dan dapat diterima negara luar. Dengan demikian, mimpi
bangsa ini untuk memberikan kontribusi bagi dunia pun tak hanya khayalan
dan angan belaka. Pemerintah dan masyarakat daerah industri gula
tersebut pun tentunya akan bangga, anak daerah dapat ambil andil dalam
memajukan dan membangun negeri.
________dari wichan untuk PTPNX di bumi pertiwi________

Tidak ada komentar:
Posting Komentar