oleh Lidwina Widayati
Sejak
zaman nenek moyang Indonesia dikenal dengan kekayaan alam dan sumber
dayanya. Segala penjuru dunia pun mengakui sehingga bukan suatu hal yang
mengherankan jika sedari dulu Indonesia selalu diperebutkan. Gelar
zamrud khatulistiwa pun ia sandang sebagai wujud apresiasi dunia atas
kontribusinya. Bentang alamnya yang terdiri dari pulau-pulau dan
kumpulan kepulauan menjadi daya tarik tersendiri bagaimana eksotisnya
bumi pertiwi. Jadi, sudah layak dan sepantasnya jika kekayaan hayati ini
dimanfaatkan dan diolah pemerintah sebagai objek wisata demi
meningkatkan devisa.
Selain
objek-objek wisata yang santer terdengar memberikan pemasukan devisa
negara di antaranya Taman Laut Bunaken di Sulawesi, Raja Ampat dan Danau
Sentani di Papua, Sumbawa dan Lombok di NTB, Natuna di Riau, Borneo di
Kalimantan, Tanah Lot di Bali dan Pulau Samosir di Sumatera Barat, Pulau
Jawa juga memiliki objek wisata yang tak kalah handal yaitu Pulau
Bawean (dalam bahasa Sansekerta artinya “ada sinar matahari”). Pulau ini
terdiri dari 2 kecamatan yakni Tambak dan Sangkapura, letaknya sekitar
80 mil atau 120 km sebelah utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Untuk
mencapai tempat ini, dapat kita tempuh melalui perjalanan laut;
berangkat dari pelabuhan terdekat yang ada di Gresik, kurang lebih
sekitar 4 jam perjalanan. Objek wisata yang dapat dieksplor di pulau ini
juga beragam meliputi:
- Pantai
Karena
Bawean merupakan pulau kecil, maka kita akan selalu menemukan pesisir
pantai seperti Labuhan dan Bayangkara yang terletak di lapangan pesawat
desa Tanjungori.
- Air terjun
Letak
geografis Bawean yang dikelilingi pegunungan juga melahirkan air terjun
indah di kawasan Kecamatan Tambak dan Sangkapura, masing-masing dengan
nama yang sama yaitu Grujukan. Ada juga Air Terjun Kuduk-Kuduk dan Air
Terjun Talomon.
- Perbukitan
Ada
perbukitan yang indah di Dusun Panyal Pangan. Cocok bagi pecinta
tracking. Keindahan topografi alamnya menciptakan daratan pegunungan
dengan hutan tropis yang cukup lebat dihiasi rimbunan pepohonan tua.
- Danau
Pesona
Danau Kastoba di Bawean juga menenangkan hati dan jiwa, terletak di
Tanjungori. Jalan menuju ke sana lumayan menanjak, tapi tak akan pernah
dibuat menyesal olehnya karena mata kita akan disuguhkan pemandangan
yang tak akan pernah ada di ibukota.
- Sungai
Sungai-sungai di Bawean juga relatif banyak dan kebanyakan tak bernama.
- Hutan Bakau (Mangrove)
Bawean juga terkenal dengan hutan bakau yang sengaja dibiarkan tumbuh liar, masih perawan dan belum terjamah.
- Kepulauan kecil
Pulau
Gili dan Pulau Noko termasuk mutiara Pulau Bawean. Pulau Gili
berpenghuni sedangkan Pulau Noko tidak. Pulau Gili terkenal dengan
pemandangan lautnya yang indah sedangkan Pulau Noko terkenal dengan
pemandangan alamnya. Dari Dusun Pamona, Pulau Gili dapat dicapai dengan
menumpang ataupun menyewa perahu kelotok penduduk yang hendak berbelanja
ke pasar Bawean. Pulau ini menawarkan keindahan terumbu karang, aneka
ikan warna-warni, sunrise serta sunset.
Pulau Noko itu sendiri letaknya 100-200 meter sebelah timur Pulau Gili.
Ketika senja tiba dan air laut surut, kedua pulau ini menyatu dan mata
kita akan disuguhkan pada panaroma bentang pasir putih panjang. Ada juga
Pulau Selayar jika ingin menikmati pulau perbukitan dengan latar
belakang laut yang memukau.
- Air Panas
Objek
wisata air panas di Bawean terletak di Desa Sawahmulya Kecamatan
Sangkapura. Objek wisata ini selalu ramai dipadati pengunjung, baik
mereka yang ingin mandi dan merefleksikan tubuh maupun mereka yang hanya
ingin mencuci muka.
- Penangkaran Rusa – Beto Gebang
Cagar
alam yang ditetapkan oleh pemerintah seluas 7,25 km² mencakup flora dan
fauna endemik hutan primer menjadikan Bawean terkenal dengan
penangkaran rusanya dengan luas wilayah sekitar 4 ha. Letak penangkaran
rusa ini di Kecamatan Sangkapura, di kaki Gunung Gadun. Terdapat 4 jenis
rusa asli Indonesia seperti rusa Timur, rusa Sambar, rusa Bawean dan
kijang yang mendominasi cagar alam ini. Awalnya hanya terdapat sepasang
koleksi rusa, lalu seiring berjalannya waktu mereka menjadi puluhan.
Semuanya dibiarkan hidup liar dan tak sembarang pengunjung boleh memberi
mereka makan.
- Makam Waliyah Zainab
Objek
wisata religi ini terletak di Desa Diponggo merupakan makam yang paling
ramai dikunjungi. Makam ini terletak di belakang Masjid Diponggo.
Waliyah Zainab itu sendiri adalah puteri seorang pembesar Kota Surabaya
keturunan Majapahit. Selain
meninggalkan bangunan masjid, Waliyah Siti Zainab juga meninggalkan
benda-benda bersejarah lainnya, yaitu kendi, keris, dua buah tombak,
cawan besar dari besi, piring keramik kuno dari Dinasti Ming dan Tsing,
entong, batok kelapa besar, sendok dll. Peninggalan-peninggalan sejarah
ini masih tersimpan rapi di sebuah ruangan belakang makam.
- Rumah Makan Terapung
Rumah
makan ini juga terletak di Desa Diponggo, menyajikan beragam jenis
masakan khas Bawean. Daya tarik rumah makan ini adalah letaknya yang
terapung di atas permukaan air laut.
- Terumbu Karang
Salah
satu kekayaan hayati alam bahari adalah ekosistem terumbu karang yang
menjadi tempat hidup para spesies ikan. Untuk menikmati snorkling, kita
disarankan membawa perlengkapan sendiri karena minimnya tempat penyewaan
peralatan selam di sini. Kinglopster, ikan tiger dan kerapu pun jadi
teman perjalanan menyelam Pulau Bawean.
Pulau Selayar
Rusa Bawean (Axis Kuhlii)
Tak
hanya keeksotisan alamnya yang luar biasa, Bawean juga menawarkan
pesona budaya yang begitu lekat dengan tradisi dan kebiasaan. Masyarakat
Bawean yang termasuk keturunan Boyan
awalnya menggunakan bahasa Bawean. Namun, karena adanya perkawinan
campuran menjadikan tradisi Bawean mirip dengan budaya Melayu, Jawa dan
Madura. Bahkan tradisi Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi juga ikut
terserap sebagai bentuk budaya. Selain itu, letak geografis Bawean
yang berada di persimpangan membuka peluang bagi nelayan di masa lampau
untuk singgah atau menetap di Bawean. Hasil interaksi dari masyarakat
dengan asal-usul yang berbeda inilah yang kemudian mempengaruhi
bentuk-bentuk budaya penduduk Bawean. Sebut saja dalam hal seni musik
yang dendang lagunya menyerupai musik Melayu, juga adapula kesenian
kercengan, mandailing dan pencak silat.
Ada dua kebiasaan menarik di Bawean yang berlangsung dari dulu hingga sekarang. Pertama, banyak pria keturunan Boyan
(artinya sopir atau tukang kebun) bekerja di Malaysia dan Singapura.
Mereka mengadu nasib di negeri orang agar dapat membangun rumah dan
membeli sebuah kapal di kampung halaman. Kedua, mereka menjunjung tinggi
local wisdom
profesi mereka sebagai nelayan. Sekalipun mereka mampu membeli
peralatan canggih untuk menangkap ikan, mereka memilih untuk tidak
melakukannya. Masa depan dan keberlangsungan hidup anak cucu merekalah
alasan mengapa mereka lebih memilih menangkap ikan dengan cara yang
sederhana. Mulia, bukan?
Sisi
lain yang dapat kita ekplorasi di Pulau Bawean adalah kearifan penduduk
lokal dalam menyambut para wisatawan dan penduduk luar. Berkunjung di
Pulau Bawean, lidah kita akan disuguhi dengan olahan ikan seperti pentol, beberapa kerupuk, hingga posot-posot sebagai kerupuk ikan khas Bawean. Sebagai hidangan penutup, masyarakat Bawean biasanya menyuguhkan kobuk-kobuk sebagai pelepas dahaga. Kobuk-kobuk itu sendirimerupakan minuman khas yang berbahan baku buah kelapa muda.
Sadar
akan potensi Bawean yang begitu kaya dengan ekosistem dan budaya,
target rencana pembangunan di bawah pemerintahan Wakil Bupati Gresik
seperti pembangunan
jalan lingkar Bawean, rumah sakit tipe D di Sangkapura, Puskesmas di
Tambak, pembangunan lapangan terbang di Tanjungori dan pembangunan
dermaga menuju Pulau Gili
diharapkan dapat dijalankan secepat mungkin. Dengan begitu,
keluhan-keluhan wisatawan seputar sarana, prasarana dan akomodasi dapat
terselesaikan. Masalah sampah di pulau Noko juga patut diperhatikan
karena menganggu dan merusak keindahan. Penyediaan tempat pembuangan
sampah sementara ataupun akhir wajib segera direalisasikan. Lebih bagus
lagi jika masyarakat dilatih dalam mendaur ulang dan mengolah sampah
guna menghasilkan barang yang mempunyai daya jual sebagai wujud usaha
mandiri. Di samping itu, keluhan atas pendapatan nelayan Bawean yang
berkurang karena kedatangan kapal-kapal besar yang mengeruk ikan-ikan
juga tak dapat disepelekan. Penambangan pasir liar di sekitar Kecamatan
Tambak juga patut disorot dan dipantau.
Kita
dapat belajar dari negeri seberang bagaimana mereka mengelola Sipadan
dan Ligitan. Seperti laporan Metro TV oleh jurnalis Prita Laura yang
mengatakan bahwa di tengah godaan untuk meraup keuntungan maksimal dari
banyaknya wisatawan, pemerintah Malaysia justru membatasi jumlah
wisatawan yang boleh masuk Sipadan yakni 120 orang per hari, dari
sebelumnya 800 orang per hari. Pemerintah Malaysia juga menerapkan
batasan-batasan yang tegas bagi para penyelam untuk tidak menyentuh
koral dan binatang serta melakukan aktivitas lain yang dapat merusak
kualitas lingkungan. Aturan-aturan itu mereka pampang di papan-papan
pengumuman. Pelanggaran atas aturan tersebut berupa sanksi larangan
menyelam. Selain itu, pemerintah Malaysia juga menetapkan larangan
memancing di Laut Sipadan. Jika melanggar area larangan memancing,
petugas jaga tak akan segan-segan untuk mengejar dan menangkap. Sanksi
denda dan kurungan penjara pun siap menanti.
Dibandingkan
dengan negeri kita, Malaysia memang tidak memiliki peraturan lengkap
dan bagus. Namun, Malaysia menjalankan penegakan aturan yang kuat dan
tegas. Dampak dari konsistensi atas komitmen tersebut menempatkan Travel and Tourism Competitiveness Index Malaysia menduduki
urutan ke-35 dari 139 negara pada tahun 2011 dan ke-34 dari 140 negara
di tahun ini. Sementara kita tertinggal jauh di urutan ke-74 untuk tahun
2011 dan ke-70 di tahun 2013 (berdasarkan Global Competitiveness Index yang dikeluarkan World Economic Forum).
Oleh karena tindakan tegas itulah Sipadan dan Ligitan saat ini mampu
memberikan sumbangsih terbesar dalam pemasukan devisa Malaysia. Tanah
air harus belajar dari Malaysia. Pulau-pulau kita jauh lebih banyak dan
lebih indah, seharusnya kita mampu untuk lebih maju. Dalam hal ini,
pemerintah diharapkan bijaksana dalam mengambil keputusan dan kebijakan
guna kesejahteraan bersama, tentunya dengan melibatkan kerjasama
masyarakat setempat.
Dengan
menjaga hubungan baik dengan masyarakat, dengan sendirinya langkah
strategis pengembangan wisata daerah dapat berjalan optimal. Pengadaan
survey dan pengidentifikasi objek wisata sebagai data statistik akan
berjalan dengan mudah. Selanjutnya, data tersebut dapat diolah dan
disusun sedemikian rupa menjadi proposal yang dapat ditawarkan kepada
investor. Dengan memiliki data rinci dan terstruktur, pemerintah juga
dapat menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dan instansi terkait
infrastruktur, misalnya PT. Semen Gresik guna pembangunan jalan.
Hal
pokok lainnya yang wajib dipertimbangkan dalam meningkatkan potensi
wisata adalah “Branded”. Desa atau daerah yang mampu menciptakan sebuah
“Branded” akan menimbulkan kecintaan diri dan rasa bangga pada daerahnya
sendiri yang kemudian akan tersebar luas ke seluruh penjuru negeri.
Misalnya “Cane Branded”, “Desa Gula”atau “Cane Island” di kota A. Branding image
“Desa Gula” akan menimbulkan rasa bangga penduduk kota A yang kemudian
tersebar luas ke segala penjuru dari mulut ke mulut. Kondisi ini
menciptakan ketertarikan bagi para wisatawan baik itu wisatawan lokal,
domestik hingga mancanegara yang ingin tahu lebih dalam proses pembuatan
gula maupun sejarah gula di kota A. Perkembangan inilah yang kemudian
dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan objek pariwisata
daerah. Kesempatan untuk mendapat investor pun akan terbuka dengan
sendirinya. Pulau Bawean itu sendiri memiliki beragam potensi yang dapat
digali untuk menciptakan sebuah “Branded”, misalnya kinglopster yang
dapat dijadikan “added value”
wisata kuliner, kerang-kerang di Pulau Noko yang dapat dijadikan
aksesoris dan pernak-pernik cinderamata unik Bawean, burung camar di
Pulau Noko atau rusa di Sangkapura yang dapat dijadikan maskot dalam
bentuk miniatur boneka sebagai souvenir bagi para wisatawan. Budidaya biota akuatik lainnya juga dapat dijadikan maskot Bawean.
Selain
hal-hal di atas, ada hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan
guna memberdayakan dan melestarikan pariwisata yaitu relokasi.
Pemerintah harus tegas merelokasi Pulau Noko dan Pulau Gili. Keberadaan
Pulau Noko yang tak berpenghuni diharapkan tetap seperti itu adanya.
Penginapan-penginapan kecil di Pulau Gili sebisa mungkin dibatasi. Jika
perlu, penginapan-penginapan kecil tersebut dipindahkan ke Kecamatan
Sangkapura; kecamatan terdekat dari Pulau Gili dan Noko, agar kualitas
lingkungan tetap lestari. Dengan menjaga kelestarian alam ini, saya
yakin Pulau Gili yang dikenal dengan pemandangan lautnya yang indah akan
menjadi tujuan wisata snorkeling yang tak kalah jauh dengan Pulau
Menjangan, Pulau Serangan, Pantai Amed, Blue Lagoon dan Nusa Penida di
Bali. Terumbu karang, padang lamun dan biota akuatik Bawean pun akan
menjadi pemandangan visual yang memukau.
Selanjutnya,
jika hal-hal kecil di atas diperhatikan, dijadikan pertimbangan dan
diterapkan perlahan-lahan secara berkala, seiring berjalannya waktu
wisata daerah Pulau Bawean akan berkembang dengan sendirinya. Banyaknya
wisatawan yang berkunjung akan menciptakan peluang usaha transportasi,
rumah makan serta penginapan. Peluang jasa housekeeping, room boy dan guide
pun siap melayani kenyamanan wisatawan. Bahkan ekspansi rute
penerbangan menuju Bawean pun dapat bertambah. Bisa dibayangkan devisa
negara yang akan didapat jika dibukanya rute penerbangan Bawean-Bali,
Bawean-Jakarta, Bawean-Malaysia serta Bawean-Singapura. Perekonomian dan
kesejahteraan masyarakat sekitar pasti melonjak drastis, begitu juga
dengan devisa negara.
Hal
terakhir yang paling pokok dari sekian banyak hal ialah moral dan
mental pejabat/pelaku pengolahan wisata daerah. Percuma jika semua hal
diatas berjalan lancar, tapi moral dan mental pemegang kuasa
menitikberatkan pada keuntungan personal. Jika kita memang anak negeri
sejati, berhati murni dan berdedikasi tinggi, pikiran kita pasti jauh
dari korupsi. Material dan keuntungan yang didapat pasti akan disalurkan
pada program maintenance
pariwisata. Saya yakin mereka yang memegang kuasa adalah orang-orang
intelektual terpilih yang sistem kerja otak depan bagian korteks
prefrontalisnya mampu menimbang, menganalisis dan mengambil keputusan
lebih baik daripada sistem limbik pada otak tengah yang hanya
menenangkan dan menyenangkan emosi saja.
Kekayaan
alam dan sumber daya saja tidak cukup untuk meningkatkan potensi
pariwisata tanpa campur tangan pemerintah dan masyarakat. Setiap daerah
di Indonesia memiliki potensi dan keunikan tersendiri dalam meningkatkan
pariwisata. Semuanya selalu dapat digali. Dimulai dari vocation tourism, Pulau Bawean nantinya akan berkembang menjadi business, cultural hingga educational tourism jika
dikelola secara bijaksana oleh tangan-tangan piawai. Tentunya dengan
didukung kesadaran yang tinggi. Jangan sampai eksplorasi potensi wisata
bukannya memperkenalkan dan memberdayakan warisan nenek moyang bangsa,
tapi malah merusak apa yang sudah ada. Jika perhatian pemerintah dan
masyarakat begitu besar, dunia bawah laut negeri ini pasti tak kalah
indah dari Bocaray di Filipina, Palau di Mikronesia, Blue Hole di
Belize, Grea Barrier di Australia dan Sipadan di Malaysia. Kekayaan bumi
pertiwi patut dijaga dan dipelihara. Kalau bukan kita siapa lagi. Salam
lestari.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar