Kedua
bola mataku nanar menatap bendera merah putih yang berkibar di depan
perpustakaan. Kali ini aku menatapnya lebih tinggi karena berada di
lantai dua perpustakaan kampus. Ketika angin menyapa, benderaku berkibar
bak api lilin yang menyala. Namun, berhenti dan berdiam diri tatkala
angin itu berhenti menyentuh kain putih merah menyala.
Tepat
pukul 14:54 menuju senja hari, daku terpana pada sang saka. Warna putih
gegana yang mengangkasa serta biru tipis langit seolah menyapa dan
mengingatkanku. Baktiku padamu negeri. Hari ini aku berjanji, keluar
dari kampus ini...daku akan lebih mengoptimalisasikan diri. Tak akan
kubiarkan orang-orang dengan mudah mendiskualifikasi mimpi dan cita-cita
diriku. Tak kan kubiarkan mimpiku berlalu dan jadi debu.
Enam
tahun sudah aku memendam mimpi...enam tahun sudah aku belajar mandiri
dan pengendalian emosional diri. Di bawah tekanan, semua kulalui. Di
bawah himpitan, daku coba bertahan.
Keluar
dari sini, ijinkan daku bebas berekpresi, terbang tinggi, berbagi dan
gapai mimpi. Hati kecilku berkata, tak ada yang mustahil untuk ia yang
percaya karena Sang Pencipta itu Maha dari segala Maha. Pelukis bumi,
dengarkan pintaku....jadikanku lebih baik dari hari kemarin dan hari
ini...tuntun langkahku.
Terima kasih untuk damainya hatiku hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar