8 Mei 2013
Hari ini sengaja kuhabiskan waktuku hanya bergelut dengan komputer dan ruangan ber-AC di perpustakan kampus. Menahan dingin yang berasa membabi-buta merambat ke dalam daging tipisku lalu menusuk tulang-tulangku. Bermodal akses gratisan coba kucari apa yang ingin ku ketahui, apa yang ingin kuakses di segala penjuru. Alam, travel, healthy life, fashion, entrepreneur, teknologi, edukasi, web, blog, sastra, media, luar negeri, institusi, budaya, seni Indonesia, hingga masalah-masalah yang mengkungkung negeriku.
Hari ini sengaja kuhabiskan waktuku hanya bergelut dengan komputer dan ruangan ber-AC di perpustakan kampus. Menahan dingin yang berasa membabi-buta merambat ke dalam daging tipisku lalu menusuk tulang-tulangku. Bermodal akses gratisan coba kucari apa yang ingin ku ketahui, apa yang ingin kuakses di segala penjuru. Alam, travel, healthy life, fashion, entrepreneur, teknologi, edukasi, web, blog, sastra, media, luar negeri, institusi, budaya, seni Indonesia, hingga masalah-masalah yang mengkungkung negeriku.
Hari
ini Selasa, 23 April 2013 adalah hari buku sedunia dan akses teknologi
di depanku kini bak buku elektronik; sebuah jendela ruang yang
menghubungkanku dengan hal-hal lain di luar jangkauan kedua lengan,
tangan, mata dan kakiku. Masalah-masalah negeriku merambat satu per satu
laksana penyakit degenatif yang melumpuhkanmu perlahan-lahan. Bermula
dari Mahakam, kucoba mencaritahu ranah apa yang terjadi. Seluk beluk
budaya, bahasa, seni, tari, adat dan tradisi yang kaya hingga air yang
begitu luas kini berganti sudah. Danau tak lagi seperti dulu, begitu
banyak pendangkalan. Hutan-hutan kini berganti kayu gelonggongan yang
siap tuk diantar, dijajakan dan dijual ke luar pulau. Spesies-spesies
ikan perlahan-lahan sirna, berganti gulma yang tumbuh liar tanpa batas.
Ini wajah bumi pertiwi.
Minggu,
21 April 2013 lalu hari Kartini, sosok perempuan yang berjuang
menyuarakan emansipasi. Meninggalkan dan menanggalkan gengsi demi apa
yang disuarakan hati nurani. Tapi begitu membuat miris dan perih hati
ketika membaca berita-berita kini dimana perempuan dicabuli, diperkosa,
dibunuh dan dibakar seenak hati. Berasa ini mimpi, tapi sungguh-sungguh
terjadi di bumi pertiwi.
Lalu
kubergerak jauh ke dunia sosial media, dimana ku dapat merengkuh
teman-temanku yang jauh. Kutemukan begitu banyak perubahan. Pribadi yang
dulunya bukan apa-apa kini berganti menjadi pribadi yang luar biasa.
Ada pula pribadi yang dulunya ramah kini berganti tak lagi suka menyapa.
“Psikologis orang selalu berubah”, bisik otak dan hati kecilku. Entah
itu berubah menuju ke arah negatif entah menuju positif, hanya ia dan
Tuhan saja yang tahu. Lingkungan dan pengetahuan hanya dua faktor yang
sedikit banyak mempengaruhi.
Tak
berhenti di situ, kutapakkan rasa keingintahuanku pada dunia kompetisi.
Terlihat ada begitu banyak lomba dan ajang-ajang edukasi yang melatih
mental dan membangun karakter dini. Lalu di saat yang bersamaan,
kutersadar akan masa lalu dimana tak ada seorang pun yang mengarahkanku
pada potensi-potensi dalam diriku. Tak orangtua, tak juga guruku.
“Orangtuamu tak kenal teknologi, maklumlah….Gurumu pun tak mau repot ke
sana kemari….banyak hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan”,
lagi-lagi bisik sesuatu yang di dalam diri. Lalu ku pun berlalu,
menikmati slide demi slide yang ditampilkan bagaimana cara mengikuti
lomba dan ketentuan-ketentuannya. Berharap andai kubisa memutar waktu,
inginku diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi.
Detik
waktu kian berjalan, hembusan udara AC pun kian menusuk, tak tersadar
terdengar derasnya rinai hujan di sisi kaca jendela. Hujan deras beserta
angin kencang, seolah meneriakkan gertak amarah. Kutatapkan pada memori
luasku, teringat akan sobat seperjuanganku dulu; Aci, yang kini
mengemban dan mengabdi mendidik anak negeri di ujung Barat tanah air
ini; Halmahera, Maluku Utara. Sobat yang menemani dan setia berbagi,
entah itu suka entah duka. Kutatap nanar kedua bola mataku pada website
Indonesia Mengajar, sekedar ingin tahu informasi serta apa yang sedang
terjadi. Perlahan-lahan kubuka pasti, mulai latar belakang, profil
pengajar, hingga penempatan. Tak lupa juga kusempatkan waktuku
berkunjung pada foto-foto terkait hal serupa; dunia pendidikan. Perihku
seolah mengoyak asa, yang berpacu dan bergelut di dalam dada. Anak
negeri, pelosok bumi pertiwi, alamku yang kaya, hingga tanah airku yang
tragis di masa kini, dunia metropolitan bisnis serta investasi. “Tak
adil saja”, ucap suara yang di dalam jiwa. Sejenak kulambungkan memoriku
pada snapshot-snapshot pertambangan Freeport yang membabat habis tanah
negeriku. Berlubang, membentuk lingkaran, bagai wadah jatuhnya benda
langit angkasa.
Seiring
meredanya hujan berganti rintik-rintik, ada hal kecil yang menyeruak di
dalam dan berbisik. Inginku mengabdi, inginku berbagi, inginku
berdedikasi. Ijinkanku selesaikan tugasku, sekedar menguatkan kedua
adikku serta membelai penuh kasih luka kedua orangtuaku. Sesudahnya,
ijinkanku pergi kemana hati membawaku, mencari jati diriku,
mengembangkan potensi yang kumiliki, meraih prestasi, menyalurkan hobiku
akan seni, budaya, adat, serta lukisan pelukis bumi, hingga bawaku
gapai mimpi. Sekalipun tak ada yang abadi di bumi, setidaknya ijinkan
dan berikanku kesempatan mengabadikan setiap hal yang terjadi, entah itu
indah entah itu buruk. Agar hidupku bisa lebih berarti karena mampu
mengukir sejarah di tiap-tiap hati yang kutemui.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar